KAJIAN RUANG KOMUNAL PADA IMAH GEDE DALAM KOMUNITAS BUDAYA PADI DI KAMPUNG GEDE CIPTAGELAR

Dinny Rahmaningrum, Susilo Kusdiwanggo

Abstract


Komunitas Ciptagelar merupakan komunitas adat berbasis budaya padi yang mempercayai entitas padi memiliki jiwa layaknya manusia. Komunitas adat identik dengan kegiatan bersama secara berulang dari generasi ke generasi sehingga kebutuhan ruang komunal menjadi wajib dalam setiap ritual baik di luar maupun di dalam bangunan. Imah Gede merupakan fasilitas terjadinya ruang komunal di dalam bangunan. Imah Gede terdiri dari beberapa fungsi dan ruang, antara lain goah, pangcalikan dan Tihang Awi yang merupakan kesatuan bangunan adat. Penelitian ini berfokus pada goah Imah Gede yang cenderung membentuk ruang komunal dalam satuan waktu yang berbeda-beda. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi peran goah Imah Gede dan mendeskripsikan interaksi yang terjadi dari setiap elemen pembentuk ruang. Data dihimpun berdasarkan maksimalisasi informasi dari responden dan keyperson dengan metode etnografi dan paradigma partisipatoris. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, ruang komunal dalam Imah Gede terbentuk berdasarkan beberapa faktor, yaitu (a) dasar kepercayaan; (b) tipologi ruang; (c) personal space; (d) latar belakang interaksi; (e) kedudukan gender; (f) rutin dan ritual; (g) kinship. Kedua, interaksi yang mendasari terbentuknya ruang komunal berdasarkan titipan adat yang diamanahkan, sehingga terbentuk ruang komunal petugas dapur dan tamu. Interaksi ini unik karena selain interaksi secara fisik, terdapat pula interaksi-senyap pada peristiwa nyangu-nganyaran. Kata kunci: Budaya padi, Ciptagelar, goah, Imah Gede, ruang komunal. ABSTRACT Ciptagelar community is indigenous community based on paddy culture that believes paddy entity has soul like human. Indigenous communities are identical with repeated activities from generation to generation becomes mandatory both outside and inside building. Imah Gede is a facility for communal space inside building. Imah Gede consist of several function and spaces, such as goah, pangcalikan, and Tihang Awi which are the unity of traditional building. This research focuses on goah Imah Gede cave which tends to form communal spaces in different periods. The aim of the research is to identify the role of Goah Imah gede and describe interactions from element forming space. Data collected based on maximizing information from respondents and keyperson with ethnographic methods and participatory paradigms. The result indicate that; first communal space in goah Imah gede made based on saveral factors, (a) fundamental belief; (b) space typology; (c) personal space; (d) background interaction; (e) gender position; (f) routine and ritual; (g) kinship. Second, interaction that influence the making of communal space based on mandated costumary land, thus forming a communal space for kitchen staff and guests. This interaction is unique because in addition to interaction physically, there is also a quiet interaction in nyangunganyaran. Keywords: : Imah Gede, communal space, rice culture, Ciptagelar.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.