Pusat Pelestarian Kebudayaan Islam di Kabupaten Gresik dengan Pendekatan Metafora Tangible

Ajeng Dyosta Lucandhary, Herry Santosa, Abraham Mohammad Ridjal

Abstract


Tidak tersedia fasilitas untuk mewadahi kegiatan budaya Islam sehingga pengenalan dan pengembangan budaya Islam pada generasi penerus dan seniman lokal kurang optimal. Hal tersebut mengakibatkan kebudayaan Islam punah dan membawa dampak pada hilangnya identitas suatu daerah. Untuk itu perlu dilakukan upaya pelestarian budaya dengan menyediakan fasilitas budaya yang dapat digunakan sebagai sarana pengenalan dan pengembangan kebudayaan Islam. Fasilitas tersebut dapat digunakan sebagai penanda ciri khas suatu daerah sekaligus menguatkan identitas dan citra Islami suatu kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Pusat Pelestarian Kebudayaan Islam. Terdapat 2 metode yang digunakan, metode deskriptif-analitik yang difokuskan untuk pemecahan masalah. Sedangkan untuk perancangan pusat pelestarian kebudayaan Islam menggunakan metode metafora tangible pola gerak tari. Selain itu ditunjang analisa formal dan analisa non formal. Analisa formal meliputi analisis fungsi, pelaku dan aktivitas, alur aktivitas pelaku, analisis ruang. Analisis non formal meliputi analisis jurus, tahapan, makna, dan anatomi keseluruhan tahapan tari serta penafsiran-penafsiran tahapan dan jurus. Penelitian ini menghasilkan desain pusat pelestarian kebudayaan memiliki susunan tata massa dan tata ruang melinggkar yang membentuk kesatuan massa, Fasilitas utama yang terakomodasi meliputi galeri seni, gedung pertunjukan, ruang seminar dan studio, penguat citra Islam direkomendasikan menggunakan ornamen Islam kontemporer pada tampilan bangunan dan tata lansekap dengan menggunakan konsep pola taman Islami.

Kata Kunci: metafora, tangible, pola gerak tari


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.