Penerapan Prinsip Ruang Kolektif Pada Pusat Komunitas Musik (Studi Pada Galeri Malang Bernyanyi)

Dionisius Dino Briananto, Tito Haripradianto, Abraham Mohammad Ridjal

Abstract


Ruang arsitektur nusantara dimengerti sebagai ruang berkehidupan bersama, yang menunjukkan bahwa ruang berkembangnya adalah arsitektur bagi fitrah manusia. Kolektif; yang merupakan hakikat fitrah berbeda dengan eksklusifitas, sehingga muncul persoalan krisis ruang publik, karena nyatanya hegemoni kota secara spasio-visual didominasi individu terkuat saja secara privat. Terlebih di era open society, tekanan simplifikasi paham global dan ciri-ciri individualisme generasi millenial Kota Malang yang jumlahnya dominan, kurang memberi ruang bagi keragaman dalam kebersamaan masyarakat. Potensi komunitas kesenian kolektif spesifik malah tidak sebanding dengan ketidak-tersediaan ruang berkesenian. Penyebabnya antara lain karena faktor eksternal: ruang berkesenian kurang representatif bagi pelakunya. Menggunakan metode penelusuran 'buku garing' dan 'buku teles', penelitian difokuskan pada Galeri Malang Bernyanyi (GMB) yang memiliki potensi kolektif namun tidak ditunjang dengan ruang berkegiatan representatif sesuai karakternya. Hasil integrasi pemetaan lapangan dan penelusuran kajian teoritik paradigma kontekstual Weak Architecture sebagai solusi krisis arsitektur di ruang publik, kemudian menjadi landasan metode perancangan sebelum proses desain. Hasil perancangan GMB menitik-beratkan pendekatan perilaku untuk mendapat parameter dasar karakter penggunaan ruang yang melalui pemetaan perilaku terhadap setting, atribut dan teritorialitas ruang. Dan variabel penerapan ruang kolektif untuk mendorong hadirnya interaksi, fleksibilitas, dan konektivitas. Yang ketiganya dibagi menjadi 3 tahap sesuai konsep Weak Architecture dalam pustaka Primitive Future.

Kata kunci: ruang kolektif, weak architecture, pusat komunitas musik, perilaku


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.