Strategi Desain Pencahayaan Alami dan Buatan pada Alih Fungsi Gedung Astaka Kota Batam menjadi Museum

Authors

  • Wayu L Syuhaya Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
  • Herry Santosa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
  • Wasiska Iyati Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Abstract

Gedung Astaka Kota Batammerupakan alih fungsi bangunan dari tempatdiselenggarakannya MTQ Nasional XXV menjadi sebuah museum sejarah Melayu. KegiatanMTQ yang selesai diselenggarakan pada tahun 2014 menggunakan 7 ruang eksistingGedung Astaka namun pada rencana alih fungsi museum terdapat 14 ruang pamer.Permasalahan Gedung Astaka ini adalah strategi desain untuk 14 rencana ruang pamerdalam aspek sistem pencahayaan alami dan buatan sehingga tiap ruang dapat mencapaistandar tingkat pencahayaan ruang pamer. Metode yang digunakan pada penelitian iniadalah metode eksperimental dengan menggunakan software DIALux 4.12 untukmensimulasikan strategi desain tiap ruang. Pada ruang eksisting dilakukan pengukuranlangsung terhadap tingkat pencahayaan ruang untuk mengetahui kondisi eksistingGedung Astaka sebelum dijadikan alih fungsi museum. Strategi desain yang dilakukanadalah dengan mengoptimalkan bukaan pencahayaan alami, menambah pembayangmatahari internal (light shelves), dan memodifikasi sistem pencahayaan buatan.Rekomendasi desain diambil dari strategi terbaik dari strategi desain yang telah dilakukandan sesuai dengan standar tingkat pencahayaan ruang pamer pada SNI 6197:2011.Dengan lebar bukaan pencahayaan alami 0,50 dan 1,00 m, lebar light shelves0,50 dan 0,75m, serta menggunakan jenis lampu TC-TEL 42W,Spotone 20W, dan 18 W ruang pamerpada rencana alih fungsi Gedung Astaka dapat mencapai standar tingkat pencahayaanruang dengan tingkat pencahayaan300 – 500 lux.Kata kunci: sistem pencahayaan alami, sistem pencahayaan buatan, ruang pamer

Downloads

Published

2017-01-27

Issue

Section

Articles