Perancangan Pusat Informasi Adat dan Budaya Sabu-Raijua : Transformasi Kampung Adat

Authors

  • Lommi Dida Kini Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
  • Chairil Budiarto Amiuza Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
  • Galih Widjil Pangersa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Abstract

Setiap daerah dan suku yang berdia, di Indonesia memiliki kearifam local yang berbeda-beda. Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu kepulauan yang kayak suku dan budaya. Salah satu Suku besar di Pulau ini adalah Suku Sabu. Suku Sabu memiliki keunikan dari segi kultur dan budaya. Hal ini tidak hanya tercermin dalam seni namun telah menjadi cara hidup. Masyarakat Sabu memiliki pola permukiman dan cara hidup yang khas. Mereka adalah para pelaut ulung sehingga diimplementasikan dalam caranya bermukim dan membangun permukiman atau kampung Adat. Pulau Sabu –Raijua juga telah menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan mancanegara.Selain itu banyak masyarakat Sabu yang telah keluar dan merantau di tanah lain sehingga seringkali mereka tidak mendapatkan informasi tentang adat dan budaya Sabu. Dengan banyaknya wisatawan baik dari dalam dan luar negeri yang datang dan menurunnya kesadaran memiliki dan bangga akan budaya sendiri maka diperlukanlah perencanaan Pusat Informasi Adat dan Budaya masyarakat Sabu-Raijua.Perencaan Pusat Informasi Adat dan Budaya beridentitas kearifan local sehingga digunakan metode transformasi. Perancangan ini mentrasformasi penataan, bentukan fisik dan tampilang dari Kampung Adat yang biasa disebut “Rae Kowa†atau Kampung Perahu.Keywords: pusat informasi adat, transformasi, arsitektur sabu

Downloads

Published

2016-02-19

Issue

Section

Articles