Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Khusus Tunanetra melalui Pendekatan Orientasi dan Mobilitas di Malang

Authors

  • Adif Lazuardy Firdiansyah Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
  • Abraham Mohammad Ridjal Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
  • Ali Soekirno Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Abstract

Perkembangan fisik pada siswa tunanetra akan menghambat tunanetra dalammenjalani kehidupan sehari – hari. Gangguan yang dimiliki siswa tunanetra dalamaspek penglihatan akan menyebabkan siswa tunanetra mempunyai keterbatasanmengenai orientasi dan mobilitas. Orientasi dan mobilitas menjadi faktor utamadalam menjalani kehidupan sehari – hari secara mandiri karena berkaitan dengankemampuan bergerak siswa tunanetra dari satu tempat ke tempat lain.Berdasarkan Badan Pusat Statistika Jawa Timur menjelaskan bahwa wilayahMalang memiliki presentase penyandang tunanetra yang lebih tinggi daripadapenyandang tuna lainnya, yaitu sebesar 874 orang. Sedangkan diantara jumlahpenyandang tunanetra tersebut, angka yang paling tinggi berdasarkan umurnyayaitu anak tunanetra yang berusia 12 – 15 tahun, yaitu sebesar 24.45% (214 anaktunanetra). Oleh karena itu, berdasarkan data tersebut, penyandang tunanetramerupakan aspek yang cukup berpotensi untuk dikembangkan. Sebagai tempatbelajar siswa, perancangan sekolah tunanetra berperan sebagai media latihorientasi dan mobilitas. Perancangan sekolah tunanetra ini didasarkan padaobservasi sederhana di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa YPAB Surabaya,analisis tunanetra pada masing – masing klasifikasi dan analisis orientasi danmobilitas, sehingga diperoleh kriteria desain untuk perancangan seklah tunanetra.Kata Kunci : Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa, Tunanetra, Orientasi, Mobilitas

Downloads

Published

2016-02-18

Issue

Section

Articles