Perancangan Pusat Informasi dan Edukasi Mangrove Surabaya

Subagus Gondho Cahyono, Tito Haripradianto, Nurachmad Sujudwijono

Abstract


Degradasi kawasan pesisir Indonesia semakin bertambah tiap tahun, termasuk kerusakan hutan mangrove. Kerusakan diakibatkan alih fungsi lahan untuk perumahan, tambak dan ekploitasi berlebihan. Menurut Departemen Kehutanan, pada tahun 2003 kerusakan mencapai 200.000 hektar setiap tahun. Kota Surabaya dengan potensi mangrove yang cukup baik, merencanakan pengembangan kawasan pusat konservasi mangrove. Dalam pengembangannya, kondisi ekosistem mangrove yang khas memerlukan penanganan arsitektural khusus sesuai kondisi alam sekitarnya untuk mengurangi dampak lingkungan akibat proses pembangunan. Konsep arsitektur berkelanjutan diperlukan untuk menjaga keseimbangan lingkungan pesisir dan keberlangsungan generasi masa depan, misalnya dengan pemakaian material alam yang bisa dibudidayakan kembali. Untuk melestarikan dan memaksimalkan ekosistem hutan mangrove di Pantai Timur Surabaya, maka diperlukan fasilitas pusat informasi dan edukasi ekosistem mangrove dengan material alami ramah lingkungan yang sesuai dengan kondisi lingkungan disekitarnya. Metode programatik dan pragmatis digunakan pada pada prose analisis sampai proses perancangan. Perancangan bangunan berkelanjutan harus menekan kerusakan akibat pembangunan dan sesuai kondisi alamnya, optimalisasi penerapan material alami seperti bambu dapat dikembangkan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.

Kata kunci: mangrove, arsitektur berkelanjutan, material alami, bambu


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.